Rasulullah SAW Bersabda : Allah tidak akan membiarkan ummatku dalam kesesatan selamanya. Ikutilah As-Sawad Al-A’zhom. Tangan (rahmah dan perlindungan) Allah bersama jamaah. Barangsiapa menyendiri/menyempal, ia akan menyendiri/menyempal di dalam neraka. (Diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Ibnu Abbas Juz 1 Hal 202 No. 398 dan dari Ibnu Umar juz 1 hal. 199 nomor 391 (Jami’ul Ahadits: 17.515)

Densus 313

Ustadz Abdul Hakim Abdat Membelokkan Ucapan Imam Syafii, Imam Nawawi, Dan Sejumlah Ulama Lain

Barusan ane nyelonong ke mari ==>> http://almanhaj.or.id/content/2272/slash/0

dapet tulisan ini,,mo ane preteli dulu.., dari catatan ini ada beberapa hal penting yg akan saya angkat menjadi objek yg di preteli, yaitu yang kalimatnya ana beri tanda bold (tebal)


berikut di tulis di website itu

TAHLILAN (SELAMATAN KEMATIAN ) ADALAH BID’AH MUNKAR DENGAN IJMA’ PARA SHAHABAT DAN SELURUH ULAMA ISLAM

Oleh Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat


"Artinya : Dari Jarir bin Abdullah Al Bajaliy, ia berkata : " Kami (yakni para shahabat semuanya) memandang/menganggap (yakni menurut madzhab kami para shahabat) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap"

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini atau atsar di atas dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah (No. 1612 dan ini adalah lafadzhnya) dan Imam Ahmad di musnadnya (2/204 dan riwayat yang kedua bersama tambahannya keduanya adalah dari riwayat beliau), dari jalan Ismail bin Abi Khalid dari Qais bin Abi Hazim dari Jarir sebagaimana tersebut di atas.

Saya berkata : Sanad Hadits ini shahih dan rawi-rawinya semuanya tsiqat (dapat dipercaya ) atas syarat Bukhari dan Muslim.

Dan hadits atau atsar ini telah dishahihkan oleh jama’ah para Ulama yakni para Ulama Islam telah ijma/sepakat tentang hadits atau atsar di atas dalam beberapa hal.

Pertama : Mereka ijma' atas keshahihan hadits tersebut dan tidak ada seorang pun Ulama -sepanjang yang diketahui penulis- wallahu a’lam yang mendloifkan hadits ini. Dan ini disebabkan seluruh rawi yang ada di sanad hadits ini –sebagaimana saya katakan dimuka- tsiqoh dan termasuk rawi-rawi yang dipakai oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Kedua : Mereka ijma' dalam menerima hadits atau atsar dari ijma' para shahabat yang diterangkan oleh Jarir bin Abdullah. Yakni tidak ada seorangpun Ulama yang menolak atsar ini. Yang saya maksud dengan penerimaan (qobul) para Ulama ini ialah mereka menetapkan adanya ijma’ para shahabat dalam masalah ini dan tidak ada seorangpun di antara mereka yang menyalahinya.

Ketiga : Mereka ijma' dalam mengamalkan hadits atau atsar diatas. Mereka dari zaman shahabat sampai zaman kita sekarang ini senantiasa melarang dan mengharamkan apa yang telah di ijma'kan oleh para shahabat yaitu berkumpul-kumpul ditempat atau rumah ahli mayit yang biasa kita kenal di negeri kita ini dengan nama " Selamatan Kematian atau Tahlilan".

LUGHOTUL HADITS
1. Kunnaa na’uddu/Kunna naroo = Kami memandang/menganggap.
Maknanya : Menurut madzhab kami para shahabat semuanya bahwa berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit dan membuatkan makanan termasuk dari bagian meratap.

Ini menunjukkan telah terjadi ijma’/kesepakatan para shahabat dalam masalah ini. Sedangkan ijma’ para shahabat menjadi dasar hukum Islam yang ketiga setelah Al-Qur’an dan Sunnah dengan kesepakatan para Ulama Islam seluruhnya.

2. Al-ijtimaa’a ila ahlil mayyiti wa shon’atath-tho’ami = Berkumpul-kumpul di tempat atau di rumah ahli mayit dan membuatkan makanan yang kemudian mereka makan bersama-sama

3. Ba’da dafnihi = Sesudah mayit itu ditanam/dikubur. Lafadz ini adalah tambahan dari riwayat Imam Ahmad.

Keterangan di atas tidak menunjukkan bolehnya makan-makan di rumah ahli mayit “sebelum dikubur”!?. Akan tetapi yang dimaksud ialah ingin menjelaskan kebiasaan yang terjadi mereka makan-makan di rumah ahli mayit sesudah mayit itu dikubur.

4. Minan niyaahati = Termasuk dari meratapi mayit
Ini menunjukkan bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit atau yang kita kenal di sini dengan nama “selamatan kematian/tahlilan” adalah hukumnya haram berdasarkan madzhab dan ijma’ para sahabat karena mereka telah memasukkan ke dalam bagian meratap sedangkan merapat adalah dosa besar.

SYARAH HADITS
Hadits ini atau atsar di atas memberikan hukum dan pelajaran yang tinggi kepada kita bahwa : Berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan makan-makan di situ (ini yang biasa terjadi) termasuk bid’ah munkar (haram hukumnya). Dan akan bertambah lagi bid’ahnya apabila di situ diadakan upacara yang biasa kita kenal di sini dengan nama “selamatan kematian/tahlilan pada hari pertama dan seterusnya”.

Hukum diatas berdasarkan ijma’ para shahabat yang telah memasukkan perbuatan tersebut kedalam bagian meratap. Sedangkan meratapi mayit hukumnya haram (dosa) bahkan dosa besar dan termasuk salah satu adat jahiliyyah.

FATWA PARA ULAMA ISLAM DAN IJMA’ MEREKA DALAM MASALAH INI
Apabil para shahabat telah ijma’ tentang sesuatu masalah seperti masalah yang sedang kita bahas ini, maka para tabi’in dan tabi’ut-tabi’in dan termasuk di dalamnya Imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’iy dan Ahmad) dan seluruh Ulama Islam dari zaman ke zamanpun mengikuti ijma’nya para sahabat yaitu berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan makan-makan di situ adalah haram dan termasuk dari adat/kebiasaan jahiliyyah.

Oleh karena itu, agar supaya para pembaca yang terhormat mengetahui atas dasar ilmu dan hujjah yang kuat, maka di bawah ini saya turunkan sejumlah fatwa para Ulama Islam dan Ijma’ mereka dalam masalah “selamatan kematian”.

1. Telah berkata Imamnya para Ulama, mujtahid mutlak, lautan ilmu, pembela Sunnah. Al-Imam Asy-Syafi’iy di ktabnya ‘Al-Um” (I/318).

“Aku benci al ma'tam yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan"[1]

Perkataan imam kita diatas jelas sekali yang tidak bisa dita'wil atau ditafsirkan kepada arti dan makna lain kecuali bahwa beliau dengan tegas mengharamkan berkumpul-kumpul dirumah keluarga/ahli mayit. Ini baru berkumpul saja, bagaimana kalau disertai dengan apa yang kita namakan disini sebagai Tahlilan ?"

2. Telah berkata Imam Ibnu Qudamah, di kitabnya Al Mughni (Juz 3 halaman 496-497 cetakan baru ditahqiq oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki ) :

“Adapun ahli mayit membuatkan makanan untuk orang banyak maka itu satu hal yang dibenci ( haram ). Karena akan menambah kesusahan diatas musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukan mereka [2] dan menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyyah.

Dan telah diriwayatkan bahwasannya Jarir pernah bertamu kepada Umar. Lalu Umar bertanya,.Apakah mayit kamu diratapi ?" Jawab Jarir, " Tidak !" Umar bertanya lagi, " Apakah mereka berkumpul di rumah ahli mayit dan mereka membuat makanan ? Jawab Jarir, " Ya !" Berkata Umar, " Itulah ratapan !"

3. Telah berkata Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna, di kitabnya : Fathurrabbani tartib musnad Imam Ahmad bin Hambal ( 8/95-96) :

"Telah sepakat imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi'i dan Ahmad) atas tidak disukainya ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak yang mana mereka berkumpul disitu berdalil dengan hadits Jarir bin Abdullah. Dan zhahirnya adalah HARAM karena meratapi mayit hukumnya haram, sedangkan para Shahabat telah memasukkannya (yakni berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit) bagian dari meratap dan dia itu (jelas) haram.

Dan diantara faedah hadits Jarir ialah tidak diperbolehkannya berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit dengan alasan ta'ziyah /melayat sebagaimana dikerjakan orang sekarang ini.

Telah berkata An Nawawi rahimahullah : Adapun duduk-duduk (dirumah ahli mayit ) dengan alasan untuk ta'ziyah telah dijelaskan oleh Imam Syafi'i dan pengarang kitab Al Muhadzdzab dan kawan-kawan semadzhab atas dibencinya (perbuatan tersebut)........

Kemudian Nawawi menjelaskan lagi, " Telah berkata pengarang kitab Al Muhadzdzab : “Dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit ) dengan alasan untuk ta'ziyah. Karena sesungguhnya yang demikian itu adalah muhdats (hal yang baru yang tidak ada keterangan dari Agama), sedang muhdats adalah " Bid'ah."

Kemudian Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna di akhir syarahnya atas hadits Jarir menegaskan : “Maka, apa yang biasa dikerjakan oleh kebanyakan orang sekarang ini yaitu berkumpul-kupmul (di tempat ahli mayit) dengan alasan ta’ziyah dan mengadakan penyembelihan, menyediakan makanan, memasang tenda dan permadani dan lain-lain dari pemborosan harta yang banyak dalam seluruh urusan yang bid’ah ini mereka tidak maksudkan kecuali untuk bermegah-megah dan pamer supaya orang-orang memujinya bahwa si fulan telah mengerjakan ini dan itu dan menginfakkan hartanya untuk tahlilan bapak-nya. Semuanya itu adalah HARAM menyalahi petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Salafush shalih dari para shahabat dan tabi’in dan tidak pernah diucapkan oleh seorangpun juga dari Imam-imam Agama (kita).

Kita memohon kepada Allah keselamatan !”

4. Al Imam An Nawawi, dikitabnya Al Majmu' Syarah Muhadzdzab (5/319-320) telah menjelaskan tentang bid'ahnya berkumpul-kumpul dan makan-makan dirumah ahli mayit dengan membawakan perkataan penulis kitab Asy -Syaamil dan lain-lain Ulama dan beliau menyetujuinya berdalil dengan hadits Jarir yang beliau tegaskan sanadnya shahih. Dan hal inipun beliau tegaskan di kitab beliau “Raudlotuth Tholibin (2/145).

5. Telah berkata Al Imam Asy Syairoziy, dikitabnya Muhadzdzab yang kemudian disyarahkan oleh Imam Nawawi dengan nama Al Majmu' Syarah Muhadzdzab : "Tidak disukai /dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit) dengan alasan untuk Ta'ziyah karena sesungguhnya yang demikian itu muhdats sedangkan muhdats adalah " Bid'ah ".

Dan Imam Nawawi menyetujuinya bahwa perbatan tersebut bid’ah. [Baca ; Al-Majmu’ syarah muhadzdzab juz. 5 halaman 305-306]

6. Al Imam Ibnul Humam Al Hanafi, di kitabnya Fathul Qadir (2/142) dengan tegas dan terang menyatakan bahwa perbuatan tersebut adalah " Bid'ah Yang Jelek". Beliau berdalil dengan hadits Jarir yang beliau katakan shahih.

7. Al Imam Ibnul Qayyim, di kitabnya Zaadul Ma'aad (I/527-528) menegaskan bahwa berkumpul-kumpul (dirumah ahli mayit) dengan alasan untuk ta'ziyah dan membacakan Qur'an untuk mayit adalah " Bid'ah " yang tidak ada petunjuknya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

8. Al Imam Asy Syaukani, dikitabnya Nailul Authar (4/148) menegaskan bahwa hal tersebut Menyalahi Sunnah.

9. Berkata penulis kitab ‘Al-Fiqhul Islamiy” (2/549) : “Adapaun ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak maka hal tersebut dibenci dan Bid’ah yang tidak ada asalnya. Karena akan menambah musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukan mereka dan menyerupai (tasyabbuh) perbuatan orang-orang jahiliyyah”.

10. Al Imam Ahmad bin Hambal, ketika ditanya tentang masalah ini beliau menjawab : " Dibuatkan makanan untuk mereka (ahli mayit ) dan tidaklah mereka (ahli mayit ) membuatkan makanan untuk para penta'ziyah." [Masaa-il Imam Ahmad bin Hambal oleh Imam Abu Dawud hal. 139]

11. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, " Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit dan mengirimnya kepada mereka. Akan tetapi tidak disukai mereka membuat makanan untuk para penta'ziyah. Demikian menurut madzhab Ahmad dan lain-lain." [Al Ikhtiyaaraat Fiqhiyyah hal.93]

12. Berkata Al Imam Al Ghazali, dikitabnya Al Wajiz Fighi Al Imam Asy Syafi'i (I/79), " Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit."

KESIMPULAN.
Pertama : Bahwa berkumpul-kumpul ditempat ahli mayit hukumnya adalah BID'AH dengan kesepakatan para Shahabat dan seluruh imam dan ulama' termasuk didalamnya imam empat.

Kedua : Akan bertambah bid'ahnya apabila ahli mayit membuatkan makanan untuk para penta'ziyah.

Ketiga : Akan lebih bertambah lagi bid'ahnya apabila disitu diadakan tahlilan pada hari pertama dan seterusnya.

Keempat : Perbuatan yang mulia dan terpuji menurut SUNNAH NABI Shallallahu ‘alaihi wa sallam kaum kerabat /sanak famili dan para jiran/tetangga memberikan makanan untuk ahli mayit yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka untuk mereka makan sehari semalam. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Ja'far bin Abi Thalib wafat.

"Buatlah makanan untuk keluarga Ja'far ! Karena sesungguhnya telah datang kepada mereka apa yang menyibukakan mereka (yakni musibah kematian)." [Hadits Shahih, riwayat Imam Asy Syafi'i ( I/317), Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad (I/205)]

Hal inilah yang disukai oleh para ulama kita seperti Syafi’iy dan lain-lain (bacalah keterangan mereka di kitab-kitab yang kami turunkan di atas).

Berkata Imam Syafi’iy : “Aku menyukai bagi para tetangga mayit dan sanak familinya membuat makanan untuk ahli mayit pada hari kematiannya dan malam harinya yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka, karena sesungguhnya yang demikian adalah (mengikuti) SUNNAH (Nabi).... “ [Al-Um I/317]

Kemudian beliau membawakan hadits Ja’far di atas.

[Disalin dari buku Hukum Tahlilan (Selamatan Kematian) Menurut Empat Madzhab dan Hukum Membaca Al-Qur’an Untuk Mayit Bersama Imam Syafi’iy, Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat (Abu Unaisah), Penerbit Tasjilat Al-Ikhlas, Cetakan Pertama 1422/2001M]
_______
Footnote
[1]. Ini yang biasa terjadi dan Imam Syafi'i menerangkan menurut kebiasaan yaitu akan memperbaharui kesedihan. Ini tidak berarti kalau tidak sedih boleh dilakukan. Sama sekali tidak ! Perkataan Imam Syafi'i diatas tidak menerima pemahaman terbalik atau mafhum mukhalafah.
[2]. Perkataan ini seperti di atas yaitu menuruti kebiasaannya selamatan kematian itu menyusahkan dan menyibukkan. Tidak berarti boleh apabila tidak menyusahkan dan tidak menyibukkan ! Ambillah connoth firman Allah did alam surat An-Nur ayat 33 :”Janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi”. Apakah boleh kita menyuruh budak perempuan kita untuk melacur apabila mereka menginginkannya?! Tentu tidak!


=========================================================
Mari kita preteli pendapat Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat ini

Sang ustadz berkata :

1. Telah berkata Imamnya para Ulama, mujtahid mutlak, lautan ilmu, pembela Sunnah. Al-Imam Asy-Syafi’iy di ktabnya ‘Al-Um” (I/318).

Aku benci al ma'tam yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan"[1]

Perkataan imam kita diatas jelas sekali yang tidak bisa dita'wil atau ditafsirkan kepada arti dan makna lain kecuali bahwa beliau dengan tegas mengharamkan berkumpul-kumpul dirumah keluarga/ahli mayit. Ini baru berkumpul saja, bagaimana kalau disertai dengan apa yang kita namakan disini sebagai Tahlilan ?"

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pertama, disini Imam Syafii sama sekali tidak mengharamkannya. Apakah ada kalimat Imam Syafii mengharamkan pada dalil diatas?? Sama sekali tidak ada, lalu apa dasarnya Abdul Hakim Abdat menyatakan bahwa Imam Syafii mengharamkan??

Kedua, apaka itu "AL MA'TAM" ??

Tanpa dasar yang jelas sang ustadz telah terburu-buru menterjemahkannya "Al Ma'tam) dengan "menangisi mayyit". Padahal tidak demikian arti yang sebenarnya. Apakah itu Al-Matam?? Untuk mengetahui ini kita bisa melihat didalam Kitab Lisanul Arab Juz 4 Halaman 12 dijelaskan : 

al-Ma’tam berasal dari kata “atama – ya’timu” yang bermakna ‘apabila dikumpulkan antara dua perkara”. Ma’tam asalnya adalah setiap perkumpulan (perhimpunan) dari laki-laki atau perempuan baik dalam hal kesedihan maupun kegembiraan. Kemudian pakar-pakar lughah, hanya mengkhususkan pada perhimpunan perempuan pada orang mati. al-Jauhari mengatakan ; ma’tam menurut orang arab adalah perempuan-perempuan yang berkumpul (berhimpun) dalam hal kebaikan dan keburukan. Ibnu Barri ; tidak bisa di cegah agar ma’tam dipahami dengan makna wanita yang meratap, kesedihan, ratapan dan tangisan sebab sesungguhnya wanita karena untuk itu mereka berkumpul, dan kesedihan itulah yang juga membuat mereka berkumpul.(Lihat ; Lisanul ‘Arab (4/12)

Inilah maksud Al-Ma'tam itu, adalah perkumpulan ratapan dan tangisan yg ada dizaman itu, orang orang Jahiliyah jika ada yg mati di keluarga mereka maka mereka membayar para "penangis" untuk meratap dirumah mereka, semacam adat istiadat mereka seperti itu, memang sudah ada orangnya, sebagaimana masa kini ada group Band penghibur, dimasa lalu juga ada Group penangis, khusus untuk meratap dirumah duka. Ucapan Imam Syafii "Al Ma'tam" itu diselewengkan maknanya oleh Ustadz Abdul Hakim Abdat dan wahabi-wahabi yang lain tanpa dasar yang jelas. karena Ma'tam yg ada dimasa beliau sudah jauh berbeda dg Ma'tam yg dimasa Jahiliyah, karena jika Ma'tam yg dimasa jahiliyah sudah jelas jelas haram, dan beliau melihat dimasa beliau masih ada sisa sisa perkumpulan tangisan dirumah duka, maka beliau memakruhkannya.



Abdul Hakim Abdat mengatakan : 
2. Telah berkata Imam Ibnu Qudamah, di kitabnya Al Mughni (Juz 3 halaman 496-497 cetakan baru ditahqiq oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki ) :

“Adapun ahli mayit membuatkan makanan untuk orang banyak maka itu satu hal yang dibenci ( haram ). Karena akan menambah kesusahan diatas musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukan mereka [2] dan menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyyah.

Dan telah diriwayatkan bahwasannya Jarir pernah bertamu kepada Umar. Lalu Umar bertanya,.Apakah mayit kamu diratapi ?" Jawab Jarir, " Tidak !" Umar bertanya lagi, " Apakah mereka berkumpul di rumah ahli mayit dan mereka membuat makanan ? Jawab Jarir, " Ya !" Berkata Umar, " Itulah ratapan !"


Silakan pembaca lihat tulisan didalam kurung. Dari manakah munculnya kalimat Haram itu? itu hanya penafsiran yg 'dipaksakan' saja oleh Ustadz Abd Hakim Abdat.  Imam Ibnu Qudamah tak menjatuhkan hukum haram, akan tetapi makruh, kalimat "benci/membenci" pada lafadh para muhadditsin yg dimaksud adala "Kariha/yakrahu/Karhan" yg berarti Makruh.,Makruh mempunyai dua makna, yaitu :makna bahasa dan makna syariah.makna makruh secara bahasa adalah benci, makna makruh dalam syariah adalah hal hal yg jika dikerjakan tidak mendapat dosa, dan jika ditinggalkan mendapat pahala.

Uts Abdat menyelewengkan ucapan Imam Syafii yg mengatakan bahwa hal itu Makruh, justru Imam syafii dan  Ibnu Qudamah  tidak menjatuhkan hukum haram, karena jika haram maka beliau tak akan menyebut membenci, tapi haram secara mutlak, sebab dalam istilah para ahli hadits jika bicara tentang suatu hukum, maka tak ada istilah kalimat benci, senang, ngga suka, hal itu tak ada dalam fatwa hukum, namun yg ada adalah keputusan hukum, yaitu haram, makruh, mubah, sunnah, wajibmaka jika ada fatwa para Imam dalam hukum, tidak ada istilah benci/suka, tapi hukumlah yg disampaikan, maka jelas sudah makna ucapan imam syafii itu adalah hukumnya, yaitu makruh, bukan haramkarena menurut kaidah ushul bahwa semua imam dan ulama dan siapapun, tak berhak memberi pendapat pada suatu hukum dg perasaan, tapi mereka jika berhadapan dg hukum mestilah fatwa syariah yg disampaikan, bukan perasaan benci, senang dll, karena hal itu bukan dalil.

ust abdat mengatakan :

3. Telah berkata Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna, di kitabnya : Fathurrabbani tartib musnad Imam Ahmad bin Hambal ( 8/95-96) :

"Telah sepakat imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi'i dan Ahmad) atas tidak disukainya ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak yang mana mereka berkumpul disitu berdalil dengan hadits Jarir bin Abdullah. Dan zhahirnya adalah HARAM karena meratapi mayit hukumnya haram, sedangkan para Shahabat telah memasukkannya (yakni berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit) bagian dari meratap dan dia itu (jelas) haram.

Dan diantara faedah hadits Jarir ialah tidak diperbolehkannya berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit dengan alasan ta'ziyah /melayat sebagaimana dikerjakan orang sekarang ini.

Telah berkata An Nawawi rahimahullah : Adapun duduk-duduk (dirumah ahli mayit ) dengan alasan untuk ta'ziyah telah dijelaskan oleh Imam Syafi'i dan pengarang kitab Al Muhadzdzab dan kawan-kawan semadzhab atas dibencinya (perbuatan tersebut)........

Kemudian Nawawi menjelaskan lagi, " Telah berkata pengarang kitab Al Muhadzdzab : “Dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit ) dengan alasan untuk ta'ziyah. Karena sesungguhnya yang demikian itu adalah muhdats (hal yang baru yang tidak ada keterangan dari Agama), sedang muhdats adalah " Bid'ah."

Kemudian Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna di akhir syarahnya atas hadits Jarir menegaskan : “Maka, apa yang biasa dikerjakan oleh kebanyakan orang sekarang ini yaitu berkumpul-kupmul (di tempat ahli mayit) dengan alasan ta’ziyah dan mengadakan penyembelihan, menyediakan makanan, memasang tenda dan permadani dan lain-lain dari pemborosan harta yang banyak dalam seluruh urusan yang bid’ah ini mereka tidak maksudkan kecuali untuk bermegah-megah dan pamer supaya orang-orang memujinya bahwa si fulan telah mengerjakan ini dan itu dan menginfakkan hartanya untuk tahlilan bapak-nya. Semuanya itu adalah HARAM menyalahi petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Salafush shalih dari para shahabat dan tabi’in dan tidak pernah diucapkan oleh seorangpun juga dari Imam-imam Agama (kita).

Kita memohon kepada Allah keselamatan !”


lihat yg saya beri tanda bold,  
tidak disukainya,
atas dibencinya,  
bermegah-megah dan pamer supaya orang-orang memujinya

tidak disukainya, atas dibencinya ini adalah makruh bukan haram seperti penjelasan sebelumnya.

 "bermegah-megah dan pamer supaya orang-orang memujinya", apakah ada orang didunia ini yg ketika tahlilan membuat acara bermegah2an dan pamer terutama di Indonesia??? Tidak ada..!!! karena tahlilan di Indonesia paling2 hanya sekedar menyuguhkan teh atau kopi sederhana,,ini adalah hal yg mubah,, bukan makruh apalagi haram..!! 

Imam Ibnu Abidin Al-Hanafy menjelaskan “Ittikhadzuddhiyafah”, ini maknanya “membuat perjamuan besar”, misalnya begini : Bupati menjadikan selamatan kemenangannya dalam pilkada dengan “Ittikhadzuddhiyafah” yaitu mengadakan perjamuan. Inilah yg dikatakan Makruh oleh Imam Ibn Abidin dan beliau tak mengatakannya haram, Inilah dangkalnya pemahaman orang orang wahabi yg membuat kebenaran diselewengkan.



4. Al Imam An Nawawi, dikitabnya Al Majmu' Syarah Muhadzdzab (5/319-320) telah menjelaskan tentang bid'ahnya berkumpul-kumpul dan makan-makan dirumah ahli mayit dengan membawakan perkataan penulis kitab Asy -Syaamil dan lain-lain Ulama dan beliau menyetujuinya berdalil dengan hadits Jarir yang beliau tegaskan sanadnya shahih. Dan hal inipun beliau tegaskan di kitab beliau “Raudlotuth Tholibin (2/145).

Ini sama sekali bukan pendalilan yang tepat, karena menyandarkan kpd pendapatnya Imam Nawawi, sedangkan Imam Nawawi membagi bid'ah menjadi 5 (lima). Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155

Bid’ah yg wajib, Bid’ah yg mandub, bid’ah yg mubah, bid’ah yg makruh dan bid’ah yg haram.Bid’ah yg wajib contohnya adalah mencantumkan dalil dalil pada ucapan ucapan yg menentang kemungkaran, contoh bid’ah yg mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yg Mubah adalah bermacam macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yg umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)

dan selebihnya, banyak kata2 yang ditemui didalam dalil2 diatas adalah "tidak disukai", "dibenci" ini maknanya adalah makruh bukan haram.


Pendalilan yang tepat.

عن عائشة أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال ثم يا رسول الله إن أمي افتلتت نفسها ولم توص وأظنها لو تكلمت تصدقت أفلها أجر إن تصدقت عنها قال نعم

Dari Aisyah ra bahwa sungguh telah datang seorang lelaki pada nabi saw seraya berkata : Wahai Rasulullah, sungguh ibuku telah meninggal mendadak sebelum berwasiat, kukira bila ia sempat bicara mestilah ia akan bersedekah, bolehkah aku bersedekah atas namanya?, Rasul saw menjawab : “Boleh (Shahih Muslim hadits no.1004).

Berkata Al Hafidh Al Imam Nawawi rahimahullah
:
وفي هذا الحديث أن الصدقة عن الميت تنفع الميت ويصله ثوابها وهو كذلك باجماع العلماء وكذا أجمعوا على وصول الدعاء

“Dan dalam hadits ini (hadits riwayat shahih muslim diatas) menjelaskan bahwa shadaqah untuk mayit bermanfaat bagi mayit, dan pahalanya disampaikan pada mayyit, demikian pula menurut Ijma (sepakat) para ulama, dan demikian pula mereka bersepakat atas sampainya doa doa” (syarh Imam Nawawi ala shahih muslim juz 7 hal 90)

Maka bila keluarga rumah duka menyediakan makanan dengan maksud bersedekah maka hal itu sunnah, apalagi bila diniatkan pahala sedekahnya untuk mayyit, demikian kebanyakan orang orang yg kematian, mereka menjamu tamu2 dengan sedekah yg pahalanya untuk si mayyit, maka hal ini sunnah.

Lalu mana dalilnya yg mengharamkan makan dirumah duka?

Mengenai ucapan para Imam itu, yg dimaksud adalah membuat jamuan khusus untuk mendatangkan tamu yg banyak, dan mereka tak mengharamkan itu :

1. Ucapan Imam nawawi yg anda jelaskan itu, beliau mengatakannya tidak disukai (ghairu Mustahibbah), bukan haram, tapi orang wahabi mencapnya haram padahal Imam Nawawi mengatakan ghairu mustahibbah, berarti bukan hal yg dicintai, ini berarti hukumnya mubah, dan tidak sampai makruh apalagi haram, dan yg dimaksud adalah mengundang orang dengan mengadakan jamuan makanan, beda dengan tahlilan masa kini bukanlah jamuan makan, namun sekedar makanan ala kadarnya saja, bukan Jamuan, hal ini berbeda dalam syariah, jamuan adalah makan besar semacam pesta yg menyajikan bermacam makanan, ini tidak terjadi pada tahlilan manapun dimuka bumi, yg ada adalah sekedar besek atau sekantung kardus kecil berisi aqua dan kue kue atau nasi sederhana sekedar sedekah pada pengunjung, maka sedekah pada pengunjung hukumnya sunnah.

2. Imam Ibnu Hajar Al Haitsamiy menjelaskan adalah :

من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه بدعة منكرة مكروهة

mereka yg keluarga duka yg membuat makanan demi mengundang orang adalah hal Bid’ah Munkarah yg makruh(bukan haram)

Jauh beda dengan rumah duka yg menyuguhkan makanan untuk tamu yg mengucapkan bela sungkawa, jauh berbeda dengan membuat makanan demi mengundang orang agar datang, yg dilarang (Makruh) adalah membuat makanan untuk mengundang orang agar datang dan meramaikan rumah, lihat ucapan beliau, bid;ah buruk yg makruh.., bukan haram, jika haram maka ia akan menyebutnya : Bid’ah munkarah muharramah, atau cukup dengan ucapan Bid’ah mungkarah, maka itu sudah mengandung makna haram, tapi tambahan kalimat makruh, berarti memunculkan hukum sebagai penjelas bahwa hal itu bukan haram,

3. Ucapan Imam Ibnu Abidin Al-Hanafy menjelaskan “Ittikhadzuddhiyafah”, ini maknanya “membuat perjamuan besar”, misalnya begini : Bupati menjadikan selamatan kemenangannya dalam pilkada dengan “Ittikhadzuddhiyafah” yaitu mengadakan perjamuan. Inilah yg dikatakan Makruh oleh Imam Ibn Abidin dan beliau tak mengatakannya haram, Inilah dangkalnya pemahaman orang orang wahabi yg membuat kebenaran diselewengkan
.

4. Imam Ad-Dasuqi Al-Maliki berkata berkumpulnya orang dalam hidangan makan makan dirumah mayit hukumnya Bid’ah yg makruh. (Bukan haram tentunya), dan maksudnya pun sama dg ucapan diatas, yaitu mengumpulkan orang dengan jamuan makanan, namun beliau mengatakannya makruh, tidak sampai mengharamkannya.

5. Syaikh An-Nawawi Al-Banteni rahimahullah menjelaskan adat istiadat baru berupa “Wahsyah” yaitu adat berkumpul dimalam pertama saat mayyit wafat dengan hidangan makanan macam macam, hal ini makruh, (bukan haram)
.

dan mengenai ucapan secara keseluruhan, yg dimaksud makruh adalah sengaja membuat acara “jamuan makan” demi mengundang tamu tamu, ini yg ikhtilaf ulama antara mubah dan makruh, tapi kalau justru diniatkan sedekah dengan pahalanya untuk mayyit maka justru Nash Shahih Bukhari dan Shahih Muslim diatas
telah memperbolehkannya bahkan sunnah.

Yg lebih baik adalah datang dan makan tanpa bermuka masam dan merengut sambil berkata haram..haram… dirumah duka (padahal makruh), tapi bawalah uang atau hadiah untuk membantu mereka.

Sekali lagi saya jelaskan bahwa asal muasal pemakruhan adalah jika menyusahkan dan memberatkan mayyit, maka memberatkan dan menyusahkan mereka itulah yg makruh
,
dan pelarangan / pengharaman untuk tak menghidangkan makanan dirumah duka adalah menambah kesusahan keluarga duka, bagaimana tidak?, bila keluarga anda wafat lalu anda melihat orang banyak datang maka anda tak suguhkan apa2..?, datang dari Luar kota misalnya, dari bandara atau dari stasion luar kota datang dg lelah dan peluh demi hadir jenazah, lalu mereka dibiarkan tanpa seteguk airpun..???, tentunya hal ini sangat berat bagi mereka, dan akan sangat membuat mereka malu.

Akhir dari jawaban saya adalah : semestinya orang yg berhati suci dan menginginkan kebangkitan sunnah, mereka mengajak untuk bersedekah pada keluarga duka bila ada yg wafat di wilayahnya, namun sebagian dari kita ini bukan menghibur mereka yg kematian, malah mengangkat suara dg fatwa caci maki kepada muslimin yg ditimpa duka agar jangan memberi makan apa apa untuk tamunya, mereka sudah sedih dengan kematian maka ditambah harus bermuka tembok pula pada tamu tamunya tanpa menyuguhkan apapun, lalu fatwa makruh mereka rubah menjadi haram, jelas bertentangan dengan ucapan mereka sendiri yg berhujjah bahwa agama ini mudah, dan jangan dipersulit.

Inilah dangkalnya pemahaman sebagian saudara saudara kita, mereka ribut mengharamkan hal hal yg makruh dan melupakan hal hal yg haram, yaitu menyakiti hati orang yg ditimpa duka.

Kini saya ulas dengan kesimpulan :

1. membuat jamuan untuk mengundang orang banyak dg masakan yg dibuat oleh keluarga mayyit hukumnya makruh, walaupun ada yg mengatakan haram namun Jumhur Imam dan Muhadditsin mengatakannya Makruh.

2. membuat jamuan dengan niat sedekah hukumnya sunnah, tidak terkecuali ada kematian atau kelahiran atau apapun, juga hingga 7 hari setelah wafatnya mayyit,

3. membuat jamuan dengan tujuan sedekah dan pahalanya untuk mayyit hukumnya sunnah, sebagaimana riwayat Shahih Bukhari seorang wanita mengatakan pada Nabi saw bahwa ibuku wafat, dan apakah ibuku mendapat pahala bila aku bersedekah untuknya?, Rasul saw menjawab : Betul (Shahih Bukhari hadits no.1322), bukankah wanita ini mengeluarkan uangnya untuk bersedekah..?,

4. menghidangkan makanan seadanya untuk tamu yg datang saat kematian adalah hal yg mubah, bukan makruh, misalnya sekedar teh, atau kopi sederhana.

5. Sunnah Muakkadah bagi masyarakat dan keluarga tidak datang begitu saja dg tangan kosong, namun bawalah sesuatu, berupa buah, atau uang, atau makanan.

6. makan makanan yg dihidangkan oleh mereka tidak haram, karena tak ada yg mengharamkannya, bahkan sebagaimana dalam Syarh Sunan Ibn Majah dijelaskan hal itu pernah dilakukan oleh Rasul saw
,

7. boleh saja jika keluarga mayyit membeli makanan dari luar atau ketring untuk menyambut tamu tamu, karena pelarangan akan hal itulah yg akan menyusahkan keluarga mayyit, yaitu memasak dan merepotkan mereka,

Dan sungguh hal yg lucu bila kalangan wahabi ini meracau dengan mengumpulkan dalil gunting sambung lalu menyuguhkan kita racun agar kita teracuni, INILAH YG TELAH DILAKUKAN OLEH USTADZ ABDUL HAKIM ABDAT DAN USTADZ2 WAHABI LAINNYA.

WALLAHU'ALAM

dari berbagai Sumber

21 comments:

  1. maaf,mungkin lebih baik antum coba diskusikan masalah ini langsung kpd ustadz abdul hakim abdat,maaf kadang kami mjadi bingung....

    ReplyDelete
  2. Dari Jarir bin Abdullah Al Bajaliy, ia berkata : " Kami (yakni para shahabat semuanya) memandang/menganggap (yakni menurut madzhab kami para shahabat) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap"

    apakah Tahlilan itu berkumpul-kumpul? YA
    apakah Tahlilan itu di tempat ahli mayit? YA
    apakah Tahlilan itu membuatkan makanan? YA
    apakah Tahlilan itu setelah ditanamnya mayit? YA

    semua kriteria yang disebutkan oleh sahabat Jarir bin Abdullah Al Bajali telah terpenuhi dalam ritual Tahlilan masa kini.

    ReplyDelete
  3. Bida'h inilah yang menyebabkan umat Islam terpecah belah.
    Ajaran Islam jadi ngak murni lagi, penambahan disana sini.
    Yang udah di anjurkan malah ngak dilaksanakan.

    Yahudi dan Nasrani, tumbuh seperti sekarang karena Bida'h.
    Bagaimana mungkin ibadah sholat lama2 jadi nyanyi2 di gereja.
    Itulah kehebatan Bida'h.

    Beruntung umat Islam punya Al-qura'n.
    Yang teksnya tidak terkorupsi.
    Bayangin kalo sampe di tambahin dan dikurangi...

    ReplyDelete
  4. Ana mendoakan semoga antum mendapatkan hidayah.

    ReplyDelete
  5. Akhi...mari kita berpikir logika saja kalau memang anda mengandalkan akal anda untuk memahami teks-teks yang anda sebutkan di atas. Mudah saja akhi, jauhi hal-hal yang masih dipertentangkan atau meragukan atau tidak jelas karena tidak sesuai dengan nalar anda...hidupkan sunnah yang lain yang jelas-jelas ada tuntunannya, seperti sholat dengan sutrah yang mulai ditinggalkan, sholat sunnah sebelum dan sesudah sholat lima waktu.Mudah untuk dilaksanakan akhi, JAUHI...

    ReplyDelete
  6. Sudah jelas bid'ah munkar makru kenapa justru jadi "icon" tradisi?? sebaiknya ditradisikan memberi bantuan kepada keluarga mayit tanpa mengharap adanya timbal balik, walau 1 gelas air sekalipun,gitu ja ko repot.....

    ReplyDelete
  7. Assalamuálaykum saudaraku,smoga Alloh memberimu hidayah.

    Kedua, apaka itu "AL MA'TAM" ??

    Tanpa dasar yang jelas sang ustadz telah terburu-buru menterjemahkannya "Al Ma'tam) dengan "menangisi mayyit". Padahal tidak demikian arti yang sebenarnya. Apakah itu Al-Matam?? Untuk mengetahui ini kita bisa melihat didalam Kitab Lisanul Arab Juz 4 Halaman 12 dijelaskan :

    al-Ma’tam berasal dari kata “atama – ya’timu” yang bermakna ‘apabila dikumpulkan antara dua perkara”. Ma’tam asalnya adalah setiap perkumpulan (perhimpunan) dari laki-laki atau perempuan baik dalam hal kesedihan maupun kegembiraan. Kemudian pakar-pakar lughah, hanya mengkhususkan pada perhimpunan perempuan pada orang mati. al-Jauhari mengatakan ; ma’tam menurut orang arab adalah perempuan-perempuan yang berkumpul (berhimpun) dalam hal kebaikan dan keburukan. Ibnu Barri ; tidak bisa di cegah agar ma’tam dipahami dengan makna wanita yang meratap, kesedihan, ratapan dan tangisan sebab sesungguhnya wanita karena untuk itu mereka berkumpul, dan kesedihan itulah yang juga membuat mereka berkumpul.(Lihat ; Lisanul ‘Arab (4/12)

    Inilah maksud Al-Ma'tam itu, adalah perkumpulan ratapan dan tangisan yg ada dizaman itu, orang orang Jahiliyah jika ada yg mati di keluarga mereka maka mereka membayar para "penangis" untuk meratap dirumah mereka, semacam adat istiadat mereka seperti itu, memang sudah ada orangnya, sebagaimana masa kini ada group Band penghibur, dimasa lalu juga ada Group penangis, khusus untuk meratap dirumah duka. Ucapan Imam Syafii "Al Ma'tam" itu diselewengkan maknanya oleh Ustadz Abdul Hakim Abdat dan wahabi-wahabi yang lain tanpa dasar yang jelas. karena Ma'tam yg ada dimasa beliau sudah jauh berbeda dg Ma'tam yg dimasa Jahiliyah, karena jika Ma'tam yg dimasa jahiliyah sudah jelas jelas haram, dan beliau melihat dimasa beliau masih ada sisa sisa perkumpulan tangisan dirumah duka, maka beliau memakruhkannya.


    sebenarnya antum membawa penjelasan tsb yang lebih ditujukan atas kebingungan antum tentang makna al ma'tam. Jadi sebenarnya penjelasan dari kitab Kitab Lisanul Arab Juz 4 Halaman 12 justru menguatkan ust abdul hakim.coba deh baca lagi.
    Yang ane faham antum tampaknya masih memegang istilah makruh menurut bahsa fiqih.bahkan dalam fiqih pun makruh termasuk sifat yang sia-sia.lha iya tho ngapain capek-capek tahlilan kematian kalo gak dapet pahala.

    ReplyDelete
  8. Untuk Para Pengaku Salafy alias wahabi Nampak nya anda perlu Membaca ini yang Kuran lega dengan tahlilan

    https://www.facebook.com/photo.php?fbid=303876503062729&set=a.272903182826728.72084.100003211456444&type=3&theater

    Dan apa bila masih ada yg kurang lega bisa hubungi saya langsung... Mari kita bica secara ilmiyah, Melalui FB maupun antar blog Ini FB saya http://www.facebook.com/nama.depan.9440?ref=tn_tnmn

    Ini blog saya http://salafyabad21.blogspot.com/


    Ku tunggu anda yang tidak lega dengan masalah Tahlil ataupun masalah aqidah yang lain

    ReplyDelete
  9. lutfi penuh syubhat dan syahwat

    ReplyDelete
  10. Artikel seginilah yg sebenarnya memecah belahkan ISLAM. Tidak semua orang bisa menerima ilmu sedalam ini. Internet luas banget, diskusi seperti ini seharusnya dibahas dalam rapat oleh para ulama yg bisa mengeluarkan fatwa. Atau mungkin penulis juga bisa mengadakan sesi bahas langsung dengan Ust Abdul Hakim. Bukan dengan memberi penjelasan kepada orang awam (lewat internet) yg belum tentu minda'nya udah sepintar penulis.

    Ingatlah, internet ini luas, klo yg membaca'y orang awam yg biasa2 aja dlm ilmu pengetahuan Islam, bisa bikin dia keliru dan lebih parah lagi mungkin bisa bikin dia menyebarkan 'fatwa'nya sendiri oleh fikirannya yg singkat itu.

    Sekurang2nya, bikin pembahasan secara majlis beramai2 berdialog langsung dengan Ust. Hakim untuk mencari penjelasan. Dan mungkin sesi itu bisa di videokan. Daripada mengeluarkan bermacam2 hadith untuk beri penjelasan kepada orang awam yg belum tentu bisa terima pernyataan seperti ini.

    Penulis memfokus untuk memberi pendapatnya tentang pembahasan Ust hakim yg kononnya keliru lewat blog ini tanpa memikirkan kalau target pembaca blog ini terlalu luas. Ternyata penulis bisa menulis sepanjang-panjangnya tetapi tidak pernah terfikir klo lewat penulisannya inilah sebenarnya bisa memecah belahkan kita.

    Yakinlah, buat orang awam yg biasa2 aja dlm ilmu islamnya, setelah membaca artikel segini mungkin akan berkata, 'jadi siapa yg benar siapa yg salah nih?" Bukankah itu memecahkan belahkan kita ? Yg sedihnya itu terjadi di dalam islam sendiri.

    Kalau ada orang kafir yg membaca blog seperti ini pasti akan tertawakan islam, mungkin akan berkata,'lihatlah islam yg saling menyalahkan satu sama lain.'

    ReplyDelete
  11. sebaiknya menghindari perkara yg syubhat. dalam hal ibadah/amalan yg tidak pernah diajarkan Rasullullah saw akan ditolak walaupun itu niatnya baik.beda sama masalah muamalah/duniawi misal nabi saw makan 3 jari kok kita makan pake sendok? nabi dulu naik onta kok kita skrg naik motor? itu smua sifatnya mubah asal tidak ada larangnnya.Rasullullah saw bilang untuk masalah duniawi kalian yg lebih tau.semua ttg ibadah sudah diatur dalam quran dan sunnah rasul. kenapa salat subuh 2 rakaat? kenapa bukan 3,4,5rakaat..dst bukannya lebih banyak lebih baik? karena sudah diatur demikian dan kita umat muslim wajib mengimani/percaya, tidak boleh ditambah2i tidak boleh dikurang2i. begitupun dengan tahlilan Rasullullah tidak pernah menjalankan atau mengajarkan kenapa kita lancang menjalankannya(diada2kan). dari aspek lain, keluarga yg sedang berduka cita akan semakin berat untuk mengadakan acara tahlilan apalagi keluarga dari ekonomi kurang mampu.krn merasa sudah tradisi/membudaya mau gak mau harus mengadakan tahlilan walaopun akan memberatkan keluarga tsb krn ekonomi lemah harus menyediakan makanan minuman padahal secara psikologis sedang sedih/berduka cita.tidak jarang pula ada yg ngutang dulu buat ngadain tahlilan.malah menambah beban keluarga yg ditinggalakan.itu kalo mau dilihat dari aspek yg lebih luas lagi.karena islam itu simple dan tidak memberatkan itu kuncinya.

    ReplyDelete
  12. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  13. Makasih ya Admin, semakin anda menjelaskan ilmu anda, semakin saya tahu bahwa kita lah yang terlalu termakan fitnah oleh orang NU yang gila tradisi. Sudah jelas kalo ada di hadits sahabat, berarti kita harus mematuhinya. Kalo makruh, baru dapet pahala ketika ditinggalkan. Memang kalo dijalani tidak dosa, karena dibenci belum berarti dilarang, tapi tetap tidak dapat pahala. Trus kalo ibadah ga dapet pahala mau ngapain mas..?? Jadi benar si ustad Hakim Abdat itu kayanya

    ReplyDelete
  14. Kalau imam syafi'i mengatakan sesuatu dng kata benci pastilah beliau memahami makna benci tsb yaitu beliau membenci suatu perbuatan itu krn memang dibenci oleh Allah dan Rasulnya, dan sesuatu yg dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya pastilah hukumnya HARAM.

    ReplyDelete
  15. Intinya jangan saling menyalahilah...itu aja..pasti aman...ini gak belum apa apa udah haram haram.. jalan kan ibadah berdasarkan faham masing masing...

    ReplyDelete
  16. berilmu dulu sebelum berkata dan beramal ..

    ReplyDelete
  17. Ibadah itu butuh dalil dan tuntunan mas.. tidak ada riwayat secuil pun Rasulullah dan para sahabat melakukan ritual tahlilan.. cth : Rasulullah menyaksikan sahabat dan kaumnya mati syahid di medan perang.. toh tidak ada riwayat tahlilannya.. Sahabat menyaksikan Rasulullah wafat..toh tidak ada riwayat tahlilannya.. amalan yg di contohkan Rasulullah itu banyak mas, itu yg wajib dibela..., ngga usah repot ngebela amalan yg ngga dicontohkan Rasulullah.. kita ini dizaman dimana kebodohan dalam agama merajalela.. jadi beragama ngga usah neko2..

    ReplyDelete
  18. Tahlilan/peringatan meninggalnya seseorang dari 3 hari, 7 hari, 40 hari dan seterusnya adalah amalan orang hindu. Karena sebelum islam datang orang hindu sudah mengerjakannya, akhirnya ritual/acara yang demikian itu menjadi budaya orang kita.

    ReplyDelete